Membentuk Kader Pemimpin Futuristik

Sedangkan kondisi geopolitik global saat ini luar biasa penuh ketidakpastiannya. Kondisi geopolitik yang penuh kompetisi dan potensi perang membuat semua negara semakin berhati-hati. Tiap negara sekarang mencari hal-hal yang bisa meningkatkan ketahanan nasionalnya. Oleh karena itu, proteksionisme setiap negara kemungkinan akan semakin besar, polarisasi global akan semakin menguat. Begitupun ketegangan-ketegangan yang ada saat ini, misalnya, antara Taiwan dan China. Atau konflik perang antara Ukraina dan Rusia yang efek dominonya terasa sekali pengaruhnya bagi negara lain di penjuru dunia dengan dampaknya di sektor pangan, energi, ekonomi secara global. Bahkan dari persoalan global tersebut, dunia akan mengalami krisis global, dimana laporan bulan September 2022 Amerika Serikat mengalami inflasi yang tinggi yakni sebesar 8,2%, juga negara-negara eropa lainnya seperti Turkiye mengalami hiper inflasi hingga mencapai lebih 80%, belum lagi dampak gempa bumi awal Februari 2023 yang menewaskan lebih dari 35,000 jiwa dan ratusan bangunan hancur belum teridentifikasi total kerugian dan dampak yang ditimbulkan secara ekonomi negara, tentunya hal ini semakin membuat suram kondisi global.

Oleh karena itu, kita harus menguatkan keyakinan, bahwa bangsa ini dan kita semua memiliki kapasitas yang tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan. Dengan keyakinan yang kuat, kita bersama-sama akan mampu membawa tujuan bangsa untuk terus tumbuh lebih baik dalam mengisi kemerdekaan, demi mewujudkan Indonesia yang aman serta maju dan sejahtera. Terlebih, kini Indonesia masuk dalam perhitungan di kancah global. Mengingat Indonesia merupakan negara yang besar baik dari sisi populasi dan potensi ekonominya. Bahkan telah menjadi bagian dari anggota G20. Artinya, Indonesia masuk dalam 20 besar negara ekonomi terbesar di dunia. Maka, Indonesia harus membuka cakrawala terhadap kondisi global yang terjadi saat ini, dan kita tidak boleh tidak, harus paham terhadap konteks geopolitik yang begitu dinamis.

Menjadi pemimpin di masa depan itu sangat berat dan memiliki resiko yang tinggi sehingga membutuhkan kemampuan leadership yang mumpuni. Untuk menjadi pemimpin adaptif harus bisa memahami nilai-nilai yang membentuk karakter seorang pemimpin, seperti loyalitas yang kuat, menjalankan tugas dan tanggungjawab dengan sepenuh jiwa dan raga, adanya rasa hormat atau kepatuhan atas posisi yang diembannya, serta memiliki atribut mental profesionalisme, fisik yang sehat dan kecerdasan emosional yang diperlukan untuk mendukung nilai-nilai dalam mencapai misi yang besar, yakni mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Pribadi kepemimpinan adaptif yang terampil akan tetap menjadi yang terpenting bagi para pemimpin generasi muda di abad ke-21. Keterampilan itu dilandasi oleh cara berpikir secara strategis, dapat menyampaikan tujuan atau misi yang akan dicapai, mendorong kohesi kelompok, menegakkan kedisiplinan, dan membuat keputusan cepat dalam situasi yang tidak menentu. Dan, pribadi pemimpin adaptif juga harus mampu menguasai berbagai bidang pengetahuan, dimulai dari yang sangat umum hingga bidang keahlian dan keterampilan yang sangat spesifik diberbagai disiplin ilmu atau dalam kata lain memiliki multi talenta. Kemudian, tindakan yang harus dilakukan oleh pemimpin adaptif itu ialah membuat misi atau tugas serta fungsi organisasinya yang dapat menyelesaikannya secara efektif, mempengaruhi misi, dan sedapat mungkin meningkatkan unit dan sistem yang ada di bawah kendali pimpinan tersebut. Hal itu harus ditunjang dengan kemampuan tugas operasional khusus, memiliki kemampuan intelektual dan kognitif yang baik, dan keluasan pengetahuan maupun multiperspektif.

Keterampilan Operasional Khusus baru-baru ini atau yang sedang berlangsung dalam bidang keterampilan khusus membutuhkan lebih banyak penekanan karena telah menjadi lebih penting, dan lebih kompleks. Keterampilan itu termasuk diantaranya tentang penyediaan sarana dan fasilitas dalam kerja-kerja kolaboratif, melibatkan diri dengan berbagai kelompok latar belakang, intuisi kedaruratan, kemampuan operasional di daerah perkotaan atau terbatas, memahami situasi dinamika persoalan, dapat menggunakan teknologi untuk kesadaran situasional, mengintegrasikan kekuatan kolaboratif, dan berinteraksi dengan media massa.

Sedangkan tuntutan Kemampuan Intelektual dan Kognitif di era kontemporer saat ini menempatkan nilai tawar yang lebih tinggi dalam membuat keputusan dengan cepat, dalam kondisi yang tidak biasa di tengah situasi yang lebih besar ambiguitas dan ketidakpastian yang tidak dialami oleh pemimpin di masa lalu. Maka, pengambilan keputusan dalam kondisi darurat sekalipun membutuhkan beberapa kompetensi intelektual yang mendukung situasi dan kondisi zamannya, yaitu; Penguasaan pola, kemampuan untuk mendapatkan pemahaman situasional, mengelola mental sebaik mungkin, berpikir kritis, dan tentunya kemampuan beradaptasi. Dan, pemimpin juga perlu memiliki pemikiran yang multi perspektif dan pengetahuan global untuk menambah informasi dalam mengambil keputusan, terutama dalam ruang lingkup yang tidak dikenalnya. Sehingga Kita harus senantiasa "learning by doing" dan "transfer of knowledge" bagi para pemimpin masa depan, juga berikan keteladanan tentang “cara berpikir kritis, dan bukan apa yang harus dipikirkan”.

Adaptasi Skill Kepemimpinan

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...