Daerah
Lewat Kebijakan Kotaku, Kabupaten Bekasi Ditarget Bebas Kusta di 2025
Kabupaten Bekasi - Pemerintah Kabupaten Bekasi menargetkan daerahnya akan bebas kusta pada 2025 dengan mengimplementasikan kebijakan Kotaku.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi Dedy Supriyadi melaunching program Kotaku (Kota Sahabat Kusta) sekaligus memperingati hari Kusta se-dunia tahun 2023, di Gedung Swatantra Wibawa Mukti, Selasa (7/3).
Saat acara peresmian Dedy mengatakan, dalam melaksanakan program ini pemkab menggandeng Yayasan NLR Indonesia. Mereka adalah organisasi non-pemerintah (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas, termasuk akibat kusta.
"Kita menargetkan Kabupaten Bekasi sebagai kota eliminasi kusta (zero kusta) di tahun 2025," ungkap Dedy.
Dia memastikan program ini memiliki dukungan anggaran dari pemkab dan semua pemangku terkait akan dilibatkan.
"Kita akan upaya maksimal supaya pencapaian target di tahun 2025 Kabupaten Bekasi bebas kusta," katanya.
Dengan kebijakan tersebut dia optimsitis target itu dapat tercapai. Terlebih jumlah penderita kusta di Kabupaten Bekasi saat ini menyisakan 218 orang yang tersebar di beberapa kecamatan.
"Para pasien ini akan dilakukan perawatan medis yang intensif," ujarnya.
Dedy juga mengimbau masyarakat agar tidak mendiskriminasi penderita kusta di lingkungannya. Mereka juga memiliki hak hidup dan hak bersosialisasi yang sama dengan orang lain.
Dan masyarakat diimbau memberi semangat kepada penderita kusta untuk mendorong kesembuhan mereka.
"Pemerintah sendiri akan selalu hadir untuk memastikan bagaimana mereka (penderita kusta) bisa diterima di tengah masyarakat," imbuhnya.
Di pihak lain, Dedy juga meminta penderita kusta memiliki rasa percaya diri, baik yang sudah sembuh maupun yang masih dalam pengobatan.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Alamsyah, mengungkapkan pihaknya telah menyusun peta jalan (roadmap) Zero Kusta 2025.
Dalam implementasinya, Dinkes akan memberi pengobatan intensif kepada penderita kusta dalam waktu 6 hingga 12 bulan. Selain pengobatan, penderita juga akan diberi edukasi, khususnya kesabaran berobat.
"ebanyakan kegagalan pengobatan itu karena tidak sabar," ujar Alamsyah.