Andalkan Program Magang dan Job Fair, Sumut Atasi 1.500 Pengangguran Tiap Bulan

Ilyas mengatakan, perbaikan iklim investasi di Sumut juga menjadi faktor yang memengaruhi penurunan angka pengangguran. Begitu juga dengan perkembangan UMKM serta kehadiran platform digital yang dimanfaatkan sebagai informasi pasar kerja.
Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, intervensi yang dilakukan pemprov bisa dikatakan berhasil. Dari kondisi ekonomi global yang disebut-sebut mengalami resesi pada 2023 akibat pandemi Covid-19, Sumut bisa mempertahankan kondisi ekonominya walau tumbuh melambat.
Bagi Gunawan, data BPS di atas juga mengartikan jumlah orang yang bekerja juga mengalami peningkatan. Sampai dengan Februari 2021 jumlah orang yang bekerja di Sumut sebanyak 7,030 juta jiwa, per Februari 2022 bertambah menjadi 7,315 juta dan per Februari 2023 bertambah menjadi 7,461 juta jiwa.
"Hal ini menandakan lapangan pekerjaan masih tersedia di Sumut," ujarnya.
Dia melanjutkan, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Februari 2023, ada tiga lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja paling signifikan.
Sektor yang terbanyak menyerap adalah pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 29,41%. Disusul perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor sebesar 19,73% dan industri pengolahan sebesar 10,36%.
“Pengendalian inflasi dan penciptaan lapangan kerja menjadi pilar utama agar masyarakat tidak masuk ke dalam jurang kemiskinan. Di tahun 2023 ini pertumbuhan ekonomi Sumut pada dasarnya masih tumbuh. Secara komulatif, ekonomi Sumut tumbuh 4,7% pada 2022,” terangnya.
Pada triwulan I tahun 2023 pertumbuhan ekonomi Sumut tercatat sebesar 5,03% (yoy). Meningkat sedikit dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,01% (yoy). Bank Indonesia memerkirakan pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan kedua akan berada di kisaran 4,5%-5,3%.
Komentar