Perspektif
KOLKHOZ

Seusai pembubaran Uni Soviet pada 1991, Kolkhoz sering kali diplesetkan dengan istilah koperasi yang kental dengan pengendalian dari atas (top-down), bahkan acapkali disetarakan dengan KUD (Koperasi Unit Desa) yang kelahirannya memang sarat intervensi kekuasaan.
Di masa keemasannya, KUD tak lebih dari alat pemerintah untuk pengamanan program swasembada pangan, lantaran itu KUD tenggelam dalam berbagai kredit program pemerintah tanpa diberi pilihan mengembangkan bisnisnya sendiri. Tentu saja KUD bukan Kolkhoz, dan jauh lebih beradab karena ekonomi Indonesia di era orde baru dalam keadaan baik-baik saja.
Terbukti KUD hilang makna
Tetapi, sering dilupakan sebuah sistem koperasi tidak bisa dimobilisasi. Koperasi harus tumbuh dari bawah (bottom-up) dan atas dasar kebutuhan dan kepentingan yang sama dari para anggotanya (mutual self-help). Terbukti kemudian, KUD kehilangan makna sebagai badan usaha petani ketika rezim penopangnya, Orde Baru, ambruk.
Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik dari traumatis KUD yang kini kebanyakan hanya tinggal papan nama. Jawaban gampangnya memang revitalisasi kendati tidak semudah mengucapkannya. Apalagi jika jawaban itu hanya bagian dari program kebijakan birokratis yang belakangan terbukti hanya jargon kosong.
Di tengah persaingan pasar dan tren digitalisasi yang masif dewasa ini revitalisasi KUD adalah keniscayaan. Tetapi jika campur tangan birokrasi penguasa masih melekat erat, sebaiknya lupakan saja konsep pemberdayaan itu. Mengutip Jack Mc Kenzie (Caltex), dalam buku Ian Batey, Asian Branding, A Great Way to Fly, para pemimpin bisnis seharusnya berubah dari struktur organisasi tradisional 'memerintah dan mengawasi’ yang bersifat top-down menjadi organisasi berstruktur bisnis yang menciptakan lingkungan budaya terbuka dan menantang. Batey bicara tentang abad 21, abad konsumen, dan pembuatan merek dagang yang akan menjadi pemain penting dalam peta pemasaran.
Koperasi memang butuh dukungan pemerintah berupa kebijakan, akses dan regulasi yang memihak. Hanya saja jika dukungan tersebut masuk terlalu jauh, maka yang terjadi justru intervensi. Campur tangan yang di masa lalu telah memperlemah daya saing koperasi. []
Penulis: Irsyad Muchtar adalah seorang Tokoh Koperasi dan Jurnalis senior di Tanah Air
Komentar