Pesan di Balik Penerbitan Buku Islamophobia Anti Peradaban

Pimpinan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma Medan, Wardayani, mengapresiasi penerbitan buku ini karena baginya harus ada intelektual-intelektual Islam yang memberi pendapat dan penjelasan kepada masyarakat bahwa Islam itu bukan sesuatu yang menakutkan.
“Buku ini sangat tepat, apalagi dilaunching di Tahun Baru Islam yang harus memunculkan pemikiran baru bahwa ajaran Islam itu harus dipahami dari dua pedomannya yakni Al Quran dan Hadist Rasulullah SAW,” ujarnya.
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi berharap dengan membaca buku itu masarakat dapat lebih memahami pengaruh negatif dari Islamophobia yang dapat menghancurkan peradaban bangsa Indonesia. Islamophobia juga merupakan upaya pihak-pihak yang ingin memecah belah persatuan bangsa Indonesia dan kembali menguasai bangsa ini.
Presidium Majelis Nasional KAHMI Muhammad Syafii mengatakan, Islamophobia tidak lebih dari taktik penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia. Islamophobia merupakan cara untuk membuat kerusuhan dan perpecahan pada masyarakat Indonesia.
"Indonesia bisa hancur kalau sedikit saja ada pemicu kerusuhan. Mereka menunggu perpecahan di bangsa Indonesia yang dengan itu mereka masuk dengan rencana yang sudah ditentukan," ungkapnya.
Menurut Syafi'i, taktik perpecahan dapat digagalkan bila para elit bangsa dapat bersatu menangkal seluruh hal yang berpotensi memicu perpecahan.
Komentar