Sumut Diduga Defisit 262 Ribu Ton, Pengamat Persoalkan Data Beras

Ilustrasi.(Antara Foto)

"Artinya, bukan tidak mungkin produksi beras bisa lebih rendah dari satu juta ton," imbuh Gunawan.

Dia menilai angka rasio 57% itu pada dasarnya angka yang paling bagus. Yang mana usia padi yang dipanen sudah cukup matang, kadar airnya sangat rendah dan mesin penggilingnya memiliki kualitas yang sangat baik.

Itu adalah kondisi yang paling ideal yang diharapkan di tahapan penggilingan. Namun kenyataan di lapangan bisa lebih buruk dari kondisi ideal.

"Jadi yang saya kuatirkan itu, ketersediaan data beras saat ini akan menjadi masalah berulang setiap tahun yang membuat kita menjadi tidak kompeten merumuskan kebijakan," tuturnya.

Terlebih, kata dia, mencari solusi berapa pasokan beras yang dibutuhkan untuk menghadapi situasi saat ini. Yang mana banyak negara penghasil beras di dunia yang sudah mengalami kenaikan harga beras dan bahkan ada yang menutup keran ekspornya seperti India.

Jika perdebatan mengenai stok beras karena perbedaan rasio konversi GKG ke beras, atau perbedaan asumsi konsumsi per kapita. Maka dia menyarankan agar pemerintah menggunakan asumsi terburuk.

Dengan begitu, ancaman kenaikan harga beras dapar diminimalisir. Dan kalau pun ada klaim bahwa Sumut memiliki surplus beras, maka perlu dipertanyakan dan bisa diperdebatkan.

"Akan tetapi di tatanan pembuat kebijakan, seharusnya semua data yang tersaji sudah menggambarkan kondisi riil di lapangan," pungkasnya.

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...