Matematika “Ngawur” Koperasi Merah Putih, Modal Rp400 T, Kok Untungnya Rp2.000 T, Bisnis Apa?

Faktor yang Memengaruhi Keuntungan
Satu, margin keuntungan. Makin tinggi margin keuntungan, makin besar keuntungan yang dapat diperoleh. Dua, volume penjualan. Makin besar volume penjualan, makin besar pendapatan yang dapat diperoleh. Tiga, efisiensi biaya. Makin efisien biaya, makin besar keuntungan yang dapat diperoleh.
Keuntungan Rp2.000 triliun dengan modal Rp400 triliun sangat tidak rasional jika tidak ada penjelasan yang komprehensif tentang bagaimana keuntungan tersebut diperoleh. Pertanyaannya, bagaimana tata kelolanya, bisnis modelnya, margin keuntungan, volume penjualan, dan efisiensi biaya untuk memahami bagaimana keuntungan sebesar itu dapat diperoleh?
Beberapa Poin yang Perlu Dipertimbangkan
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Salah satunya adalah kemampuan APBN yang makin cekak. Kita ketahui bahwa defisit APBN kita Rp104,2 triliun. APBN memiliki keterbatasan anggaran yang harus dialokasikan untuk berbagai program populis pemerintah serta kegiatan-kegiatan lain.
Pemerintah harus memprioritaskan alokasi anggaran untuk program dan kegiatan yang paling penting dan berdampak besar bagi masyarakat. Misalnya, jika terjadi bencana, APBD sudah tidak mencukupi karena sudah dibuat modal untuk koperasi. Lantas, bagaimana penyelesaian dari tanggap darurat bencana tersebut? Menunggu dana dari pusat? Tentu korban akan kelaparan dan keburu metong duluan.
Pembentukan 8.000 Kopdes memerlukan biaya yang besar, termasuk biaya untuk pembangunan infrastruktur, pelatihan, dan pendampingan. Pembangunan Kopdes juga memerlukan sumber daya manusia yang kompeten dan terlatih untuk mengelola dan mengembangkan Kopdes. Yang juga penting untuk dipertimbangkan adalah akses Kopdes terhadap pasar dan jaringan bisnis.
Risiko dan Tantangan
Ada sejumlah risiko dan tantangan terkait pembentukan Kopdes ini. Salah satu contoh risiko yaitu risiko kegagalan. Pembentukan Kopdes yang tidak seimbang dengan kemampuan APBN dapat menyebabkan risiko kegagalan program dan sangat kental dengan moral hazard. Sudah banyak pengalaman terjadi di masa lalu.
Implementasi program pembentukan Kopdes juga dapat menghadapi sejumlah tantangan, seperti kurangnya infrastruktur, sumber daya manusia yang tidak memadai, dan saya yakin dalam pemilihan kepengurusan masih diberlakukan “like-dislike” bukan “meritokrasi”.
Secara keseluruhan, perlu dilakukan analisis yang lebih mendalam untuk mengetahui kemampuan APBN dalam mendukung pembentukan 8.000 Kopdes dan mengidentifikasi potensi risiko dan tantangan yang mungkin dihadapi.
Faktor Kegagalan Kopdes yang Disuntik Modal Pemerintah
Komentar