Kuasai Baterai, RI akan Jadi Pusat Produksi Kendaraan Listrik Dunia

Pada 28 November 2019, Presiden Joko Widodo menyatakan keinginannya agar Indonesia menjadi pusat industri kendaraan listrik karena dapat memproduksi baterai litium. Menurut Presiden, target tersebut didukung dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) Indonesia, seperti nikel yang dapat menjadi bahan baku baterai litium.
Jokowi pun sudah meneken Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan tertanggal 8 Agustus 2019.
Perpres tersebut membahas soal tingkat komponen dalam negeri untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, pemberian insetif untuk mempercepat program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan hingga penyediaan infrastruktur pengisian tenaga listrik.
Saat ini Indonesia sudah memiliki kawasan industri yang khusus untuk memeroduksi baterai kendaraan di Halmahera, Maluku, bernama Weda Bay Nickel, dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali, Sulawesi Tengah.
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan juga telah berkunjung ke China pada awal Juli 2019 untuk komitmen investasi baterai litium di Morowali dengan nilai investasi sebesar 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp55,7 triliun.
Peletakan batu pertama pabrik baterai litium tersebut sudah dilakukan di Morowali dengan penanaman modal asing yang masuk sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp13,9 triliun dengan investor berbentuk konsorsium pabrikan baterai litium. Yaitu LG, Contemporary Amperex Technologyy (CATL), Volkswagen, Tesla hingga Mercedes Benz.
Komentar